Monday, January 20, 2014

[Book Review #66] Tokyo: Falling

Penulis: Sefryana Khairil
Editor: Ayuning & Gita Romadhona
Penerbit: GagasMedia
Cetakan I, 2013
Tebal: 338 halaman
ISBN: 979-979-780-663-7
Rating: 3,5 dari 5 bintang 
Bisa didapatkan di: Bukukita

Blurb:

Pembaca tersayang,

Musim panas di Tokyo selalu memiliki banyak warna. Sefryana Khairil, penulis Sweet Nothings dan Coba Tunjuk Satu Bintang mengajak kita berkeliling negeri sakura bersama dua wartawan bernama Thalia dan Tora.

Keduanya dipertemukan oleh sebuah lensa. Lalu, Danau Shinobazu membuka mata keduanya tentang bahwa kenyataan sering sekali berbeda dengan asumsi mereka pada awalnya. Thalia dan Tora berbagi tawa dan saling menyembuhkan. Hingga mereka sama-sama ragu, benarkah semuanya hanya sekadar kebetulan? Atau ini adalah satu dari misteri Ilahi yang mereka belum temukan jawabannya?

Saturday, January 18, 2014

[Book Review #65] The Devil's Whisper

Penulis: Miyuki Miyabe
Penerjemah: Nadya Andwiani
Penerbit: Serambi
Cetakan I, Maret 2012
Publikasi pertama: December 1989
Tebal: 312 halaman
ISBN: 978-979-024-376-7
Rating: 4 dari 5 bintang 
Bisa didapatkan di: Bukukita

Blurb:

Tiga kematian berturut-turut terjadi dalam waktu yang berdekatan: seorang gadis terjun dari atap gedung bertingkat; seorang gadis lainnya melompat ke atas rel tepat di depan kereta yang melaju kencang; dan gadis ketiga tewas tertabrak taksi pada tengah malam. Adakah hubungan antara ketiga peristiwa itu? Apakah itu murni kecelakaan atau kasus bunuh diri? Ataukah… pembunuhan?

Teka-teki itu sedikit demi sedikit terungkap oleh Mamoru, keponakan si pengemudi taksi yang tertimpa sial karena menjadi satu-satunya tersangka dalam kecelakaan maut tersebut. Dia baru saja pindah ke Tokyo untuk tinggal bersama keluarga pamannya itu setelah ibunya meninggal. Demi menyelamatkan pamannya dari tuduhan, Mamoru melakukan penyelidikan dan mendapati bahwa gadis yang tertabrak taksi pamannya dan dua gadis korban “bunuh diri” lainnya berkaitan. Ketiganya pernah terlibat dalam sebuah praktik penipuan. Lalu, masih ada gadis keempat yang masih hidup dan tidak diketahui keberadaannya.

Tuesday, January 14, 2014

[Book Review #64] Alanna: Song of the Lioness

Penulis: Tamora Pierce
Penerjemah: Leinofar Bahfein
Penerbit: Ufuk Fiction
Cetakan I, Mei 2012
Tebal: 312 halaman
ISBN: 978-602-9346-22-0
Rating: 3 dari 5 bintang 
Bisa didapatkan di: Bukukita

Blurb:

Meski seorang anak perempuan, Alanna selalu memimpikan petualangan dan bercita-cita mengalahkan tantangan yang biasanya hanya dihadapi oleh anak lelaki. Saudara kembarnya, Thom, ingin mempelajari seni sihir. Maka, suatu hari, mereka memutuskan untuk bertukar tempat. Thom, yang menyamar sebagai anak perempuan, pergi untuk mempelajari ilmu sihir. Sedangkan, Alanna, yang berpura-pura sebagai anak lelaki, menuju kastel Raja Roald untuk memulai latihan sebagai calon kesatria.

Namun, jalan untuk menjadi kesatria tidaklah mudah. Sanggupkah Alanna melalui latihan yang berat dan menjadi kesatria? Mampukah dia mengalahkan Ylon dan Ylanda, monster yang selalu merongrong Kota Hitam? Dan, bagaimana Alanna belajar mengendalikan hatinya dan membedakan mana yang musuh dan mana yang sekutu? Kepada siapakah akhirnya pilihan hatinya bermuara, Pangeran Jonathan ataukah George yang selalu setia membantunya?

[Book Review #63] Generasi 90-an

Penulis dan Ilustrator: Machella FP.
Cetakan Kedua, Maret 2013
Penerbit: POP (lini produk KPG)
Tebal buku: 144 halaman
ISBN: 978-979-91-0536-3
Rating: 4 dari 5 bintang
Bisa didapatkan di: bukukita

Blurb:

Bahagia itu sederhana, nostalgia salah satunya, dan buku ini menjadi mesin waktunya.

Tiada kesan nostalgia bersama teman tanpa kehadiran buku "Generasi 90an".

Review:

Waktu pertama kali tahu ada buku ini, ngeblank dulu sih pas lihat bukunya. Isinya kira-kira apaan ya sampai orang-orang pada suka. Terus tahu buku ini juga sebetulnya dari chat member Bajay Jabodetabek yang rusuh waktu ada LPM obralan. Beberapa kali sih saya cuek aja, tapi lama-lama tertarik juga karena kebanyakan pada pengin punya buku ini. Nah, gara-gara itu saya juga jadi penasaran. Jadi waktu Chei LPM ke Daan Mogot terus nawarin buku ini, saya langsung aja nyamber.

Thursday, January 9, 2014

[Book Review #62] The Boy Who Ate Stars

Penulis: Kochka
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I, Agustus 2008
Tebal: 104 halaman
ISBN: 978-979-22-3927-0
Rating: 3,5 dari 5 bintang
 


Blurb:

Semuanya bermula ketika Lucy, yang berumur dua belas tahun, baru pindah rumah. Salah satu tetangga barunya adalah Matthew, anak laki-laki umur empat tahun yang sangat istimewa. Lucy belum pernah bertemu anak seperti Matthew, yang bisa "berubah" menjadi apa saja yang saat itu menarik perhatiannya, yang suka sekali mengacak-acak rambut panjang, yang memandang dunia dari sudut sama sekali berbeda. Bersama Matthew, dan Francois, anjing kecil pemalu milik kenalan ibunya, Lucy menghabiskan saat-saat penuh kejutan ketika berusaha menyelami dunia Matthew.

Children's Literature Reading Project


Ini adalah reading challenge keenam yang saya ikuti. Iya... memang banyak. Awalnya saya hanya berniat paling banyak akan ikut 4 RC saja, tapi ternyata gak bisa. Karena setelah saya melihat beberapa buku yang saya punya, di antaranya ada buku anak ternyata. Alasan lainnya adalah karena RC yang digagas oleh Mbak Bzee ini waktunya cukup longgar, yaitu 3 tahun. Jadi gak apa-apa ya, kalau saya ikut RC lagi XD

Ini daftar buku yang saya miliki. Daftar ini juga gak menentukan urutan saya baca yang mana duluan, karena daftarnya bisa berubah sewaktu-waktu.

Wednesday, January 8, 2014

[Book Review #61] Ruby Red

Penulis: Kerstin Gier
Penerjemah: Fransisca Paula Imelda
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan I, 2013
Tebal: 320 halaman
ISBN: 978-602-02-1422-1
Rating: 4 dari 5 bintang
 

Bisa didapatkan di: Bukukita

Blurb:

Gwendolyn Shepherd yang malang, sepupunya Charlotte yang cantik menawan telah dipersiapkan seluruh hidupnya untuk menjelajahi waktu. Dan tanpa diduga-duga, Gwendolyn, di tengah jam pelajarannya tiba-tiba melompat ke zaman yang berbeda!

Gwendolyn kini harus mengungkap misteri dari kebohongan ibunya tentang tanggal lahir dan kemampuannya, menggali kisahnya, dan bekerja sama dengan Gideon, penjelajah waktu seperti dirinya yang berada di garis keturunan laki-laki, dan kehadirannya, saat ini, sangat menyebalkan tapi juga sangat penting. Bersama, Gwendolyn dan Gideon melakukan perjalanan waktu untuk mengungkap, siapa di abad ke-18, di London saat itu, yang bisa mereka percaya.