Monday, October 7, 2013

[Book Review #28] Wake: Terjaga

Penulis: Lisa McMann
Penerjemah: Rosemary Kesauly
Penyunting: Dini Pandia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan kedua, Oktobeer 2010
Tebal: 216 halaman
ISBN: 978-979-22-5246-0
Rating: 3 dari 5 bintang
Harga: Rp. 15.000 (dari shocking sale di Gramedia Matraman)

Blurb:

Janie, gadis berusia tujuh belas tahun, sudah biasa tersedot ke mimpi orang lain. Terutama mimpi tentang jatuh, telanjang, dan seks.

Ia tidak bisa memberitahu siapa-siapa tentang "kelebihannya" ini---takkan ada yang percaya. Mereka bisa-bisa malah mengira ia gila.

Lalu ia terjatuh ke dalam mimpi buruk mengerikan, mimpi yang membuatnya ketakutan sampai ke tulang sumsum. Untuk pertama kalinya, Janie bukan lagi sekadar saksi. Kali ini ia terlibat.


Review:

Janie pertama kali tersedot ke dalam mimpi orang lain saat berumur delapan tahun, saat itu ia sama sekali tidak mengerti dan melupakan kejadian tersebut. Beberapa tahun kemudian ia bermimpi kembali, lalu ia tersadar ternyata ia bisa masuk ke dalam mimpi orang yang tidur berdekatan atau seruangan dengannya. Hal itu diperparah saat Janie menjalani hari-hari di sekolah menengah atas. Makin banyak mimpi-mimpi yang menyedotnya masuk dan melumpuhkan tubuhnya ketika hal itu berlangsung. Kemudian setelahnya, ia merasakan kelelahan yang terus berulang.

Suatu hari ia melihat mimpi seorang laki-laki misterius, Cabel. Di dalam mimpinya ia melihat sesosok monster yang kerap membunuh. Janie ketakutan, berusaha menghindari laki-laki tersebut. Tapi sayang sekali, pesona Cabel tidak dapat ditepis oleh Janie. Mengenal Cabel, berarti harus berurusan dengan mimpi, ketakutan, dan rahasianya.


"Mimpi bukanlah kenangan. Isinya harapan dan ketakutan. Indikasi adanya tekanan-tekanan lain dalam hidup." - hal. 126

Idenya ceritanya bagus, gak kepikiran juga kalau saya mau membuat cerita seperti ini. Waktu awal baca, saya kira Janie itu memang masuk ke dalam mimpi orang lain tapi sama-sama tertidur. Tapi ternyata saya salah. Janie justru memasuki mimpi orang lain ketika ia terjaga.

Terjemahannya bagus, antarkalimat mengalir dengan pas. Padahal isinya kalau kata saya lebih mirip seperti buku harian, dengan tanggal dan jam. Tapi walau begitu, saya tidak merasakan patah-patah dalam membacanya. Justru sepertinya Lisa McMann mengambil cara menulis seperti ini agar pembacanya bisa tahu potongan kejadian dengan terperinci.

Karakter yang paling saya suka dalam buku ini adalah Janie. Dibalik pembawaannya yang cenderung tertutup, ia adalah seseorang yang mandiri, pintar, bertanggung jawab, baik hati, dan penyayang. Beberapa adegan tentang Melanie (teman Janie) dalam buku ini, membuat saya tertawa. Sisi humor dari kelamnya buku ini. Kelam karena kebanyakan mimpi Janie itu tidak indah, dan rasanya tidak enak sekali jika merasakan mimpi buruk yang terus menerus. Terlebih lagi mimpi itu bukan milik kita sendiri. Di dalam buku ini juga disinggung mengenai lucid dream, walau tidak terperinci. Sempat booming beberapa tahun lalu, tidak membuat saya ingin mencobanya.

Konfliknya kalau menurut saya kurang greget. Justru keseluruhan buku ini malah agak datar jadinya, tidak ada letupan yang membuat saya berdebar. Ending-nya juga terasa kurang. Saya pikir mungkin karena ini ada buku lanjutannya jadi semua pertanyaan yang masih menggantung akan dibeberkan di buku selanjutnya. Saya menutup buku ini dengan 3 bintang saja, semoga di buku selanjutnya bisa lebih seru lagi daripada yang ini.

Award:
- Cybils Award Nominee for Young Adult Fantasy & Science Fiction (2008)
- South Carolina Book Award Nominee for Young Adult Book Award (2010)
- ALA Teens' Top Ten (2009)

4 comments:

  1. Aku setuju dan suka banget cara menulis McMann yang patah-patah itu. Konfliknya kurang greget? Harus baca sekuelnya, Fade dan Gone. Kemampuan memasuki mimpinya Janie ternyata itu ada sejarahnya! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Memang rencananya mau baca sampe buku terakhir :D

      Delete
  2. aku sering banget lihat buku ini didiskon, dan karena aku mikir klo buku diskon kebanyakan gak menarik...aku gak beli. Covernya aneh lagi.... (lah, alasan remeh lagi)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lumayan kok bukunya. Emang sih, covernya kurang greget, jadi yang tadinya mau beli malah gak jadi :))

      Delete