Sunday, October 13, 2013

[Book Review #30] Fade: Pudar

Penulis: Lisa McMann
Penerjemah: Rosemary Kesauly
Penyunting: Dini Pandia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama, April 2010
Tebal: 264 halaman
ISBN: 978-979-22-5584-3
Rating: 4 dari 5 bintang
Harga: Rp. 15.000 (dari shocking sale di Gramedia Matraman)

Blurb:

Bagi Janie dan Cabel, kehidupan nyata lebih sulit daripada mimpi.

Sementara itu, hal-hal meresahkan terjadi di Fieldridge High, namun tidak ada yang mau membicarakannya. Ketika Janie masuk ke mimpi penuh kekerasan teman sekelasnya, masalah pun mulai terungkap. Tetapi semua di luar dugaan.

Lebih buruk, Janie lantas mengetahui kenyataan tentang diri dan kemampuannya. Kenyataan yang sangat muram. Bukan hanya takdirnya sebagai penangkap mimpi tak bisa diubah, apa yang akan terjadi ternyata jauh lebih mengerikan daripada yang ditakutkannya.


Review:

Bagi yang belum baca buku pertama dari seri Dream Catcher ini saya sarankan untuk tidak melanjutkan membaca review ini. Karena kemungkinan saya akan menulis review yang akan menjadi spoiler buku pertamanya. Review Wake dapat dilihat di sini :D

Sebulan setelah penggerebekan di rumah Shay, Janie dan Cabel menjalani hidup seperti biasa di Fieldridge High School. Mereka menjalani kehidupan romantis dengan sembunyi-sembunyi atas permintaan Kapten Fran Komisky. Mereka pun kini masih menjalani pekerjaan sambilan mereka menjadi agen rahasia di sekolah tersebut.

Pada suatu hari, Crimebuster Underground Quick Cash Program atau Operasi Penangkapan Rahasia Berimbalan Tunai menerima dua kali telepon yang diduga dari seorang murid di Fieldridge High School. Dari kedua telepon tersebut dapat disimpulkan bahwa sedang ada seorang penjahat seksual yang sedang beraksi di sekolah menengah tersebut, yang juga melibatkan salah satu guru di sekolah tersebut.

Kapten Kominsky meminta Janie dan Cabel untuk menyelidiki kasus tersebut lebih lanjut. Untuk menamai tersangkanya, Janie sengaja membagi semua nama gurunya menjadi sebuah kode yang hanya di mengerti dirinya. Si Pemalu, Si Bijak, Si Senang, Si Pelupa, Si Bodoh, dan Si Tolol. Lalu dengan bantuan dari mimpi Stacey -teman sekelasnya-, ia menemukan petunjuk lagi yang mengarahkannya pada pelaku sebenarnya.


"Semakin banyak mimpi yang kaumasuki, kau akan semakin membantu orang lain. Ini benar; ini hukum rata-rata." - hal. 221

Akhirnyaaaa... buku ini menjadi semakin seru dari buku pertamanya. Hmm... tentang agen rahasia yang seorang anak sekolahan memang agak terkesan tidak realistis, tapi untuk ide dan tema saya acungi jempol. Untuk sampul depan, saya lebih suka yang seri kedua ini dibandingkan dengan seri pertamanya. Janie berkesan lebih misterius begitu. Isi terjemahan benar-benar enak dibaca. Bahasanya mengalir dan saya tidak merasa kesulitan dalam membacanya.

Untuk buku berseri seperti ini, memang agak susah juga kalau tidak membandingkan dengan buku pertamanya. Untuk yang menyukai adegan romantis, mungkin akan lebih menyukai seri yang ini. Karena mulai dari sini, sepertinya akan lebih banyak lagi adegan romantis antara Janie dan Cabel ^^;

Bagian favorit saya dalam buku ini adalah saat Janie membaca jurnal yang ditinggalkan Miss Stubin. Di situ juga dijelaskan tentang kelebihan dan kekurangan seorang penangkap mimpi seperti Janie. Bagian yang saya gak suka itu... ada sih, hanya saja bisa jadi spoiler kalau saya tulis di sini. Saya cuma mau komentar aja, tentang hal 'itu' semua keputusan memang ada dalam diri masing-masing, beda budaya juga beda pemikiran. Nah... jadi penasaran kan? Makanya baca bukunya :D

Pada beberapa review yang saya baca di Goodreads. Mereka agak membandingkan Janie dan Cabel dengan Bella dan Edward. Tapi ya... sebelum saya baca review tersebut dan bahkan saat saya membaca bukunya, saya sama sekali gak kepikiran kalau Janie dan Cabel itu mirip Bella dan Edward. Saya baru kepikirannya justru setelah baca review tersebut. Oke... sepertinya sedikit mirip *terpengaruh*, tapi hanya sedikit sih. Karena di sini Janie itu mandiri, bertanggung jawab, dan pintar. Sedangkan Cabel, walaupun dia memang cemburuan, tapi dia setidaknya gak pengecut :p

Untuk keseluruhan, saya suka buku ini. Ceritanya berkembang menjadi semakin menarik, kekuatan Janie pun menjadi semakin kuat. Jadi pengen cepat-cepat baca Gone jadinya. 4 bintang untuk Janie yang jagoan banget di sini.

No comments:

Post a Comment